Balada Anak Jalanan
“Copeeett..tolooong..”. Tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita.
Tersentak Oni terkejut dengan teriakan yang berasal dari sebuah bis kota yang sedang berhenti untuk menaikkan penumpang tak jauh dari halte di mana Oni sedang terduduk lemas.
Ocid tampak meloncat keluar dari bis tersebut sambil mendekap sebuah tas milik seorang wanita.
“Copet..berhenti kamu !!” teriak seorang laki-laki
“Kejaarr…” sambung seorang lain.
Tak lama kemudian sekelompok laki-laki mulai mengejar copet kecil itu.
“Hajar saja copetnya…patahkan tangannya biar kapok..!!” teriak seorang pemuda beringas tak peduli siapa dia kejar dan teriakan itu. Hanya seorang anak kecil !!.
“Ya, hajar saja”. Timpal seorang bapak-bapak yang bertubuh gendut. Dapat dipastikan bapak ini sangat berkecukupan makannya, dibanding dengan Ocid yang kurus dan kecil, bedanya jauh sekali. Padahal Ocid sudah berusia sepuluh tahun, akan tetapi tubuhnya lebih kecil dibanding usianya.
Ocid tampak tergopoh-gopoh berlari dengan membawa tas. Oni menatap Ocid gamang. Matanya nanar memandang Ocid dan Oni mulai histeris.
“Ocid...jangan. Lepaskan tas itu”. Histeris Oni. “Ocid Jangan !!!”. Kini tubuhnya ikut bergetar dan air matanya mulai mengalir.
“Ociid..jangan”. Oman yang sedari tadi bersama Oni ikut teriak.
Ocid tampak ketakutan sekali tapi dia terus berlari ke arah halte dimana Oni dan Oman berdiri menatapnya gamang. Sedangkan yang mengejarnya sudah semakin dekat dengannya.
Kini Ocid sudah di depan halte tepat dua meter didepan Oni yang sedang berdiri kaku. Ocid sempat menoleh kepada Oni dengan tatapan pasrah seakan sedang mengatakan “Maaf”. Dan pengejarnya pun sudah dekat sekali dengan Ocid
“Tertangkap kamu setan kecil”. Seorang pemuda berhasil meraih kerah kaos oblongnya yang membuat terhenti setelah tiga meter melewati Oni.
“Tidak..”. Teriak Oni.
“Kak ada anak baru tuh”. Ujar Oman
“Anak baru lagi?! Siapa namanya? Cowok, cewek?”. Berondong Oni
“Cowok, katanya namanya Rosyid”. Jawab Oman sedikit di pelankan suaranya.
“Kenapa Dia disini”. Selidik Oni.
“Ya..kata bang Jeri orang tuanya udah gak ada”. Jawab Oman bersimpati dengan pipi sedikit di turunkan.
“Beruntung ya ada bang jeri yang mau monolong dia” Ujar Oni.
“Kita juga”. Timpal Oman. “Kalo gak ada bang jeri, gak akan ada yang mau nolong kita. Walau galak dan kasar tapi bang Jeri mau nolong anak-anak yang gak ada orang tuanya”. Tambahnya lagi
“Iya sih”. Gumam Oni sambil menerawang mencoba mengingat masa lalunya.
“Kak Oni masih ingat dengan orang tua kak Oni?”. Tanya Oman menyadarkan Oni.
“Masih ingat wajah mereka tapi kak Oni gak tahu bagaimana mereka meninggal juga kak Oni gak tahu mereka dimana”. Ujar Oni sedih. “Udah ah, jalan yuk. Nanti gak dapat setoran bisa-bisa dimarahin dan gak dikasi makan sama bang jeri lagi”. Sambung Oni seraya mengajak Oman.
“Kak Oni kenapa?, kok bengong gitu”. Tegur Ocid menyadarkannya yang bengong sedari tadi.
“Bingung nih setoran gak full, masih kurang. Pasti bang Jeri nanti ngomel dan gak di kasih makan malam deh”. Keluh Oni.
“Yaudah nih pake aja uang setoran ku biar kak Oni bisa setoran”. Tawar Ocid. Nama aslinya Rosyid tapi semua anak-anak jalanan mamanggil dia Ocid. Biar gampang kata mereka.
“Trus kamu bagaimana? Nanti kamu yang bakal dimarahin bang Jeri dan gak dikasi makan”. Jawab Oni resah
“Gak apa-apa lagian aku masih kenyang kok, lagian kalo lapar beli makanan aja dengan sisa uangnya”. Ujar Ocid meyakinkan
“Chid kalo kamu gak setoran kamu gak boleh pulang. Ini musim hujan kamu mau tidur dimana? nanti kamu bisa sakit.”
“Gampang ini kan masih jam setengah delapan malam, aku masih bisa nyari lagi tambahan. Kak Oni pulang aja. Nih uangnya. Dah ya kak”. Jawab Ocid sambil berlalu menuju angkot yang sedang berhenti dan dengan sigap dia naik angkot tersebut dan duduk didekat pintu lalu telapak tangannya pun mulai ditepuk-tepuk sambil mulutnya menggumamkan sesuatu.
Itu kejadian tiga tahun yang lalu, kali pertama Ocid membantu Oni. Dari awal Oni Ocid dan Oman mereka akrab dan saling bantu. Oni menyayangi mereka berdua seperti adik kandungnya sendiri begitu juga dengan Ocid dan Oman.
“Eh kak Oni kenapa bengong? Pasti setorannya kurang ya?” Pertanyaan Ocid membuat Oni tersentak kaget dari lamunannya. “Kurang berapa? Ini Ocid tambahin”. Tawar Ocid.
“Jangan Chid, kamu nanti susah”. Tolak Oni.
“Udah ambil aja, kurangnya berapa emangnya?” Tanya Ocid lagi.
“Banyak chid, kak Oni gak dapat apa-apa hari ini”. Jawab Oni, termenung lagi.
“Lho kenapa kak Oni? Kak Oni sakit?”.
“Gak kok” Melamun lagi. Oni teringat kejadian tadi siang.
“Hei kamu yang suka ngamen di metromini jurusan blok M Ragunan kan?”. Tanya seorang pemuda tadi siang di halte Mampang tempat dimana biasa dia menunggu bis. Seorang mahasiswa tampaknya.
Oni hanya mengangguk dan mengalihkan kembali pandangannya ke jalan.
“Tinggal dimana?” sambungnya lagi.
Oni menggelengkan kepalanya sambil menaikkan kedua bahunya. Tatapannya tetap mengawasi kendaraan-kendaraan lalu lalang.
“Pasti dilarang cerita oleh abang-abang atau om yang pelihara kamu ya?”. Tebak pemuda itu
Oni hanya diam saja mengacuhkan pemuda itu. Tiba-tiba Oni beranjak berdiri, namun sebelum sempat melangkah pemuda itu meraih lengan Oni. Oni terkejut berusaha manarik.
“Hei tenang, saya Cuma mau ngasi uang buat kamu. mau gak? Nih saya kasi empat puluh ribu”. Bujuk pemuda itu sambil menunjukkan dua lebar uang Rp. 20.000- an.
Oni terdiam sesaat menatap uang itu lalu tatapannya kembali ke pemuda itu lalu dia mengangguk.
“Tapi saya mau kamu dengarin saya cerita dulu trus nanti kamu boleh dengerin lagu dari i-Pod saya, mau kan?”. Rayu pemuda itu seraya menunjukkan i-Pod-nya. “Ayo duduk”. Oni memenuhi permintaan pemuda itu dan duduk disampingnya
“Ok, sebelum saya cerita, saya mau tahu siapa nama kamu”. Tanya pemuda itu. Tapi Oni hanya diam saja menatap jalan di depannya tidak menjawab.
“Masa tanya nama aja gak boleh sih, ok deh saya dulu, nama saya Hassan. Saya kuliah di Universitas Paramadina. Tuh kampusnya dekat, kamu tahu kan?!. Nih nanti saya tambah sepuluh ribu lagi kalo kamu mau jawab beberapa pertanyaanku. Ok?”.
Oni terdiam sesaat berfikir, akhirnya mengangguk.
“Nah nama kamu siapa?”
“Oni...”
“Mmhh. Kamu tahu nama panjang kamu?”
“Leoni Puspita Sari”
“Wah bagus sekali namanya. Nama seperti kamu sepertinya gak cocok sebagai pengamen, tapi sebagai seorang artis”. Pemuda itu berseru dan mimik Oni tampak lebih berminat. “Oya kamu lahir di Jakarta? maksud saya kamu asli sini?”. Tanya pemuda itu lagi.
“Saya di sini dari umur 3 tahun kak”.
“Oh ya!?, asli kamu dari mana?”
“Gak tahu kak, saya gak ingat”.
“Sekarang usia kamu berapa?”
“Lima belas tahun kak”.
“Eeemm...”. Pemuda itu sedikit mendekatkan wajahnya ke Oni, raut mukanya tiba-tiba menjadi serius. “Kamu kenal orang tua kamu?”. Suara pemuda itu terdengar lebih pelan
“Enggak kak, kenapa?”
“Gak sih, cuma sekarang saya mau cerita ke kamu. Begini, saya sekarang lagi sedang mengumpulkan informasi, ya orang biasa menyebutnya research. Trus dari beberapa informasi yang berhasil saya kumpulkan membuktikan bahwa sebagian dari kalian -selain yang memang satu profesi dengan orang tua kalian-, kalian adalah hasil dari penculikan anak atau kalian adalah anak-anak yang telah diculik dari orang tua kalian. Oya saya mau tanya apa kamu tinggal sama orang tua kamu?”.
Oni menggeleng
“Jadi apa kamu tinggal sama abang-abang atau bapak-bapak yang mengasuh kamu, maksud saya yang ngasih kamu tempat tinggal dan makan?”
Oni kini mengagguk
“Sudah saya duga”. Pemuda itu bergumam. “Trus pasti abang-abang itu bilang ke kamu kalau orang tua kalian sudah meninggal, kan?”.
Oni mengagguk lagi
“Kamu tahu gak, abang-abang itu bohong atau belum tentu benar. Beberapa dari kalian sebenarnya diculik dari orang tua kalian. Bisa jadi kalian berasal dari luar jakarta atau luar pulau jawa kemudian kalian dibawa ke jakarta untuk dipekerjakan sebagai peminta-minta atau pengamen dan lainnya. Sebelum itu otak kalian semacam dicuci dengan mengatakan bahwa orang tua kalian telah meninggal dan lain sebagainya”.
Oni hanya diam saja mendengarkan
“Dan abang-abang itu pasti juga mengatakan bersedia menolong untuk mengasuh kalian di rumahnya dengan syarat kalian harus bekerja mencari uang untuk dia sebagai pengamen atau peminta-minta. Bahkan mungkin kalian di targetin setoran yang harus kalian beri ke abang itu setiap hari. Iya kan?”.
Oni hanya terdiam, dia seperti berfikir.
“Benar kan kalian harus memberikan setoran pada abang-abangmu itu?”. Tanya pemuda itu lagi.
Oni mengagguk
“Berapa setoran yang harus kalian semua setor perhari?”.
“Dua puluh lima ribu”. Jawab Oni
“Lalu berapa orang kalian semua, kamu gak sendiri kan?”.
“Delapan belas orang”.
“Delapan belas?!!, itu berarti...”. Suara pemuda itu menggantung seperti sedang menghitung-hitung sesuatu. “...perhari yang abang-abang itu dapat sekitar empat ratus lima puluh ribu dan sebulan bisa didapat sekitar...”. Ucapan pemuda itu menggantung lagi. “...tiga belas setengah jutaan. Ck...ck...ck”. Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Wow lumayan besar untuk hidup mengandalkan kerja kalian. Trus bagaimana jika setoran kalian kurang atau gak setoran?”. Tanya pemuda itu mengorek informasi dari Oni.
“Ya dimarahin, kadang dipukul dan gak di kasi makan malam. Kalo yang gak setoran malah disuruh tidur diluar”. Jawab Oni santai.
“Jadi kalian Cuma dikasi untuk makan malam aja?”.
Oni mengangguk
“Lalu makan pagi atau siang”.
“Gak pernah makan pagi, kalo siang, ya beli aja sama abang jualan”.
“Kalian gak kapok atau lari saja dari abang itu”.
“Gak, abang itu udah baik ke kita. Dia mau nolong dan ngurusin kita. Dia baik udah mau jadi orang tua kita. Lagian kalo ada yang gak pulang dua hari pasti bang Jeri nyariin dan pasti ketemu. Abis teman-temannya banyak dan bosnya yang megang daerah sini.”.
“Baik kata kamu?!!, bagaimana dia bisa dibilang baik. Bukannya dia sering mukul kalian, marahin kalian?!”.
“Tapi Cuma abang yang mau ngurusin kita, jadi orang tua kita dan ngasi tempat tinggal.”
“Otak kalian memang sudah dicuci. Ya benar juga sih Cuma abang itu yang mau mengurusi kalian, pemerintah mana mau. Undang-undang dasar yang mengatakan bahwa orang-orang terlantar dan yatim piatu di tanggung oleh negara itu semua omong kosong. Bagaimana bisa bangsa ini mentaati undang-undang negara ini sedangkan undang-undang dasar mereka hanya sekedar wacana kosong”. Pemuda itu bergumam
“Kenapa kak”. Tanya Oni tidak paham
“Oh gak. Saya Cuma mau bilangin. Begini, kamu harus tahu dan ingat ya, sebenarnya orang tua kalian mungkin masih ada dan kalian sebagian adalah korban penculikan anak, mengerti kan??!!”.
Oni hanya menggeleng
“Ya sudah lah, saya Cuma mau cerita itu aja dan semoga suatu saat kamu ingat siapa orang tua kamu dan dari mana kamu berasal. Nih uang lima puluh ribu yang saya janjikan tadi”. Kata pemuda itu seraya memberikan dua lembar dua puluh ribuan dan satu lembar sepuluh ribuan. “Oya Oni minggu depan kita ketemuan di sini lagi ya. Hari ini saya lagi gak bawa recorder dan buku catatan saya jadi saya gak bisa mencatat pembicaraan kita”. Ujar pemuda itu sambil mengeluarkan i-Pod yang tadi dikantungi, sedangkan Oni masih tertegun menatap lembar uang tersebut. Dalam hatinya dia senang sekali karena belum pernah dia pegang uang lembaran dua puluh ribu. Biasanya dia hanya memegang uang seribuan kumel yang dia setorkan ke bang jeri.
“Wah hari ini gak perlu repot-repot ngamen dan bisa makan enak nanti bersama Ocid dan Oman nih”. Pikirnya sambil tersenyum lalu buru-buru dia masukkan uang tersebut ke kantungnya setelah dilipat rapi takut jadi kumal seperti uang seribuan yang biasa dia pegang.
“Oni mau mendengar lagu dari i-Pod saya?”. Tanya pemuda itu ingat janji dia mau pinjamin i-Podnya ke Oni.
Oni mengangguk riang. Tak lama Oni sudah menikmati lagu yang keluar dari i-Pod. Pemuda itu juga memberikan makanan ringan dia ke Oni. Pemuda itu menatap sedih ke Oni. “Anak yang malang”. Pikirnya. Dia membiarkan Oni mendengarkan i-Podnya selama kurang lebih setengah jam.
“Kak udah ya aku mau ngamen lagi, makasih ya”. Ucap Oni pamit setelah mengembalian i-Pod kepada pemuda itu. Pemuda itu mengangguk
“Ya sama-sama. Minggu depan ketemu disini lagi ya.” jawab pemuda.
Oni tampak riang karena di kantongnya sekarang ada uang yang banyak. “Pasti Ocid dan Oman kaget aku punya uang banyak...lumayan”. Pikirnya dalam hati. “Oya Ocid dan Oman dimana ya mereka”.
Oni senang sekali sambil berlari-lari kecil melewati gang sempit yang sepi. Disisi gang tersebut tertutup sebuah pagar besi dari seng karena didalamnya sedang ada pembangunan. Tanpa disadari Oni sedari tadi seorang preman sudah memperhatikan Oni sejak bersama pemuda mahasiswa tadi. Preman itu mengikuti Oni sampai di gang yang sepi tersebut preman itu beraksi.
“Heh bocah mana uang tadi”. Tiba-tiba preman itu membentak Oni
“Uang apaan bang?, gak ada”. Jawab Oni ketakutan.
“Belagak pilon loe, mau gue hajar!!”. Ancam preman itu mencengkram Oni sembari tangannya merogoh-rogoh kantong Oni.
“Bang jangan, bang”. Oni memelas dan berusaha memberontak tapi cengkraman preman itu cukup kuat sehingga Oni tidak bisa berbuat banyak dan membiarkan tangan preman itu merogoh-rogoh kantungnya.
“Hehe lumayan goban buat arak ntar malam”. Preman itu tersenyum puas
“Bang jangan, itu buat setoran Oni”.
“Ah diem loe, gue kepret juga loe. Cari lagi aja, no loe tongkrongin aja mas-mas lagi, siapa tahu loe dikasi lagi. Oya jangan lupa bagi-bagi gue lagi kalo loe dapat lagi..hahaha.” Tawa preman itu puas.
Oni hanya bisa terdiam. Air matanya tak mampu keluar. Yang ada hanya rasa dendam dihati. Dia jadi teringat apa yang diucapkan pemuda mahasiswa tadi. Orang tuaku masih ada??.
“Jadi uangnya habis diambil preman itu kak”. Tanya Ocid geram
“Iya”. Jawab Oni lemah
“Preman sialan”. Maki Ocid. “Sayang sekali”. Suara Ocid terdengar sedih. “Oya tadi kak Oni cerita kalo orang tua kita masih ada trus kita ini diculik?”. Tanya Ocid
“Iya itu kata mahasiswa tadi, kamu percaya”.
“Gak tahu juga. Aku gak ingat apa-apa”.
Mereka berdua terdiam.
“Yaudah kak pake uang ini aja untuk setoran kak Oni, nanti aku cari lagi.” ujar Ocid lagi.
“Tapi kurang chid, mending buat setoran kamu aja”.
“Kak kalo gak setoran sama sekali kak Oni bisa dihajar sama bang jeri”.
“Tapi kalo kamu juga gak bawa setoran kamu juga sama kan?!”.
“Aku udah biasa dan tenang aja kak aku bisa nyari lagi kok”
“Gak chid buat kamu aja”. Jawab Oni sambil berlari pulang meninggalkan Ocid.
Diperjalanan Oni terus berfikir apa yang diucapkan pemuda mahasiswa itu tadi siang tentang orang tua mereka. “Benar apa enggak ya”. Pikir Oni bertanya-tanya. “Marah gak ya bang jeri kalo aku tanya”.
Sayup-sayup terdengar nyanyian yang ditembangkan oleh group musik beralat musik gitar yang sering muncul bila malam mulai menjelang yang dimainkan sekelompok pemuda yang masih belia. SMA mungkin itu juga kalau mereka sekolah.
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal
“Apa!!”. Teriak bang Jeri menggelegar. “Loe gak bawa setoran sama sekali??. Ngapain aja loe seharian heh, ngapain?”. Bang Jeri berang sambil mendorong-dorong kepala Oni dengan jarinya. “Jawab”. Bentaknya lagi. “Mau sekalian gue bikin gak bisa ngomong apa”.
“Anu bang...anu”
“Anu apaan...!!”.
“Tadi...uangnya diambil preman”. Jawab Oni ketakutan
“Alasan loe diambil preman...bilang aja udah abis loe jajanin kan?. Pokoknya malam ini loe gak boleh makan”. Hardik bang Jeri
Oni hanya diam. Ada pikiran yang berkecamuk di kepalanya, lalu tak lama Oni berujar pelan
“Bang...”. Panggil Oni pelan
“Apa lagi?”. Bentak bang Jeri. “Mau makan?! Gak bisa enak aja”.
“Bukan bang, Cuma mau tanya...”. Oni diam sesaat menimbang-nimbang yang akan di ucapkannya. “..apa benar orang tua kita masih ada dan kita sebenarnya diculik?”. Tanya Oni hati-hati
“Sialan loe ngomong gitu”. Hardik bang Jeri semakin berang sambil tangannya melayang ke muka Oni.
Plak. Tangan besar bang Jeri mendarat sukses di sasaran. Oni pun terjajar jatuh ke belakang sambil memegang pipinya yang panas. Air mata Oni mulai keluar, sesaat Oni megap-megap seperti kehabisan nafas. Belum puas kaki bang Jeri melayang ke tepat ke perut Oni. Untung tangan Oni sedikit menutupi sehingga menahan tendangan maut bang Jeri. Yang lain menjerit tertahan.
“Kurang ajar loe...udah gue tolongin malah nanya gitu nuduh kita nyulik lagi. Syukur loe semua udah gue tolongin, orang tua loe udah pade mampus, no ada di dalam kubur lagi bersemedi yang tinggal tulang. Mau loe gue bongkar kuburannya dan gue tunjukin ke elo tulangnya!!?. Apa gak sekalian aja loe gue kubur biar gue gak repot ngurusin loe. Capek tahu ngurusin loe. Emang murah apa ngurusin elo semua”. Bentak bang Jeri berang. “Pokoknya elo sekarang Oni, loe gak boleh makan dan loe gak boleh tidur di kamar. Loe malam ini tidur di teras belakang, biar loe tahu gimana kalo gue gak ada buat nolongin loe”. sambil tangan bang Jeri melayangkan tamparan dan disusul cengkraman tangannya menyeret Oni ke teras belakang yang hanya halaman yang tidak begitu luas dan dipagari tembok tinggi yang membuat rumah ini terisolasi dari sekitar dan menutupi segala aktivitas di rumah ini. Lalu Oni dilempar keluar.
Bang Oni balik ke ruang utama seraya mengancam. “ Kalo ada yang berani bukain pintu buat Oni, nasibnya bakal sama kayak dia. Ngerti loe semua. Mana Ocid??”. Rupanya bang Jeri sadar satu orang lagi belum pulang. “Tuh anak mulai bandel sekarang mana sering pulang larut, kadang malah gak balik dan ngasi setoran. Kalo malam ini gak pulang, gue bakal gantung tuh anak”. Geram bang Jeri kemudian dia berlalu ke luar dan tangannya menyambar sebotol minuman keras.
Ocid terbangun dari tidur karena mendadak rumah menjadi ramai. Siapa lagi yang sakit nih pikir Ocid. Biasanya kalo ada yang sakit rumah jadi ramai
“Ada apa”. tanya Ocid yang masih setengah sadar. Ia masih ngantuk pagi itu karena semalam pulang larut lagi dan sedikit mendapat “belaian sayang” dari bang Jeri.
“Kak Oni sakit. Dia semalam tidur di teras belakang”. Jawab Reza yang juga tinggal disitu bersimpati
“Apa??. Kok aku gak diberi tau”. Protes Ocid.
“Lho kamu pulang kapan aku juga gak tau”. Balas Reza
“Minggir”. Ocid langsung menerobos ke arah Oni yang terbaring di matras tipis di atas lantai.
“Kak sakit apa?”. Tanya Ocid iba
“Gak papa Chid. Cuma agak pusing dan mual”. Jawab Oni lemah.
“Maaf kak aku gak tahu kak Oni di kurung di teras belakang. Kalo tahu aku pasti bukain”. Ocid menyesal
“Jangan Chid, kamu bisa berurusan lagi sama bang Jeri”. Pinta Oni
“Ada apa ini? Kalian bukannya berangkat malah berkerumun gini, ada apa sih?”. Suara bang Jeri keras mengagetkan semua.
“Bang Jeri, kak Oni sakit bang. Tolong bawa ke dokter”. Pinta Ocid
“Ah paling Cuma masuk angin”. Bantah bang Jeri
“Enggak bang kak Oni demam”. Ralat Ocid
“Masuk angin juga bisa demam. udah pada jalan semua. Ntar gak dapat setoran full lagi”. Jawab bang Jeri gak peduli. “Ocid kamu jalan sana dan awas jangan pulang larut”. Ancam bang Jeri.
“Tapi bang kak Oni dibawa ke dokter dulu”. Pinta Ocid
“Itu urusan gue. Loe jalan aja sana”. Perintah bang Jeri. “Heh Ni, loe beneran gak bisa bangun? Kalo masih bisa mendingan loe jalan kerja gih”.
“Bang, tapi...”. Ocid berkomentar
“Udah loe jalan sana, denger gak.” Bentak bang Jeri.
Ocid lalu bangkit dan keluar.
“Yaudah gue beliin obat pusing dulu. Diminum!, biar besok loe sembuh. Nyusahin aja loe. Gue udah gak ada uang lagi nih buat ngurus kalian”. Keluh bang Jeri beranjak keluar. Padahal uang hasil setoran anak-anak habis buat judi, buat Bos yang memegang daerah situ yang menjaga bisnis bang Jeri tetap berjalan, minuman keras dan perempuan.
Ini hari ke tiga Oni sakit. Pagi itu Ocid khawatir karena Oni belum sembuh juga.
“Kak apa yang kak Oni rasain?”. Tanya Ocid. Ocid dan Oman menganggap Oni seperti kakaknya sendiri karena sejak Ocid datang mereka selalu bersama-sama.
“Kak Oni mual Chid, perut sakit”. Jawab Oni lemas. wajahnya kuyu dan pucat, bibirnya pecah-pecah.
“Kak Oni panas banget badannya”. Seru Oman sedih
“Apa lagi nih, kenapa kamu berdua masih disini?”. Bang Jeri datang membentak Ocid dan Oman.
“Bang, kak Oni harus ke dokter”. Ocid memohon
“Gak bisa, udah dak ada uang lagi, lagian kenapa sih loe gak sembuh-sembuh Ni. Bikin susah aja”. Katanya menatap Oni sinis.
“Tapi bang panas kak Oni tinggi sekali”. Tangan Ocid memegang tangan bang Jeri. Bang Jeri segera menarik tangannya kasar.
“Gue gak mau tau, pokoknya dia harus ada setoran hari ini. Gue udah gak ada uang. Ngerti!!”. Bantah bang Jeri tidak peduli
“Yaudah biar Ocid dan Oman yang bawa kak Oni ke dokter”. Kata Ocid pelan
“Emang loe punya uang?”. Tanya bang Jeri kesal. “Ingat ya loe harus setoran hari ini, gak boleh kurang”.
“Iya bang Ocid akan bawa kasi bang Jeri setoran dan juga bawa kak Oni ke dokter”. Jawab Ocid tegas.
“Sebaiknya loe pastiin itu Chid. kalo loe sampe gak setoran hari ini, loe bakal tahu akibatnya”. ancam bang Jeri kejam. Ocid pun langsung pergi meninggalkan Bang Jeri, Oni dan Oman.
“Oni, sebaiknya loe jalan deh. Percuma loe di sini. Gue udah gak punya uang buat beli obat dan ngasi loe makan seharian.” Ucap bang Jeri dan berlalu.
“Padahal kata kakak mahasiswa itu bang Jeri bisa dapat Rp. 450.000-an sehari”. Pikir Oni dalam hati.
“Kak Oni kuat gak?.” Tanya Oman setelah agak jauh dari rumah. “kalo kak Oni gak kuat, kak Oni istirahat aja di bawah jembatan”. Pinta Oman.
“Gak papa, kak Oni kuat kok”. Jawab Oni lemas. Mata silau dan pusing. Cahaya diluar begitu terang menyengat baginya. Matanya serasa sulit untuk di buka. Badannya yang sudah lemah dia paksakan.
“Kak aku khawatir sama Ocid kak”. Tiba-tiba Oman berkata resah.
“Kenapa”.
“Gini kak, Ocid semalam bilang dia ingin membawa kak Oni ke dokter. Oman tanya apa dia punya uang. Dia jawab enggak tapi dia punya rencana...”. Oman kemudian cerita tentang rencana Ocid semalam.
“Begitu kak”. Ujar Oman. “Ocid minta saya bantu dia. Dia Cuma minta ambil sesuatu yang dia lempar di semak-semak pinggir gang samping halte itu. Gitu rencananya.”. Kata Oman menjelaskan rencana Ocid.
“Trus Ocidnya gimana nanti?”.
“Katanya itu urusan dia. Tugas saya Cuma ambil barang itu. Nanti malam kita ketemu lagi katanya”. jawab Oman
“Trus gimana kalo dia ketangkep”. kata Oni.
“Gak tahu kak”. Jawab Oman bingung
“Oman kenapa kamu biarin Ocid ngelakuin. Itukan bahaya. Ayo sekarang kita kesana”. Perintah Oni sedangkan kepalanya pusingnya bertambah.
“Mana Ocid”. Tanya Oni ketika mereka berdua sampai di halte yang disebutkan Ocid semalam.
“Belum keliatan kak. Kak Oni pucat banget. Kak Oni duduk dulu ya biar Oman yang cari Ocid”. Pinta Oman
Oni pun duduk di halte. Kepalanya semakin berat dia rasa sekarang.
Pandangan Oman pun mulai menyebar mencari sosok Ocid di keramaian lalu lintas dan orang.
“Sebentar ya kak, tenang aja”. Ujar Oman berusaha menenangkan Oni juga dirinya, tapi tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang wanita dari dalam bis kota yang mengejutkan semua orang terlebih Oni dan Oman yang tersontak kaget dan Oni pun terlompat berdiri dari duduknya.
Dan kejadian itu pun begitu cepat. Seperti sebuah sketsa menakutkan yang terlintas di mata Oni. Seperti mimpi buruk yang dia yakin pasti sebentar lagi dia akan terbangun dan menertawakan mimpinya itu. Tatapan pasrah dan kosong Ocid seperti sebuah anak panah yang menancap tepat di jantungnya. Nafasnya tertahan dan jantungnya seakan berhenti berdetak. Oni menutup matanya dan berteriak ketika sebuah tangan berhasil mencengkram kaos Ocid.
“Tidaaakkk...”.
Oman memeluk Oni. Oni hanya dapat mendengar teriakan orang memaki dan menyumpahi serta suara tulang berderak patah dan suara benda tertumbuk. Tidak terdengar suara Ocid saat itu, yang terdengar hanya suara kendaraan dan suara orang-orang yang sedang menegakkan kebenaran bagi seorang pencopet tapi bukan koruptor.
“Biar mampus loe..” Maki seorang pemuda seraya menyudahi aksinya.
“Copet sialan, Udah udah, tinggalin aja. Biar dia tahu rasa dan gak nyopet lagi”. Timpal seorang lagi. Mereka setelah selesai menghajar Ocid habis-habisan pun bubar seperti tidak terjadi apa tadi.
Oni membuka matanya. Dilihatnya Ocid terkapar tak bergerak. Tapi posisi tangannya ke arah yang aneh dan gak wajar. Wajahnya berlumuran darah segar.
Oni dan Oman agak tertatih-tatih setengah berlari menuju ke arah Ocid. Kini Oni duduk diatas betisnya di samping Ocid. Matanya berair tak mampu berkata apa-apa. Ocid mencoba tersenyum. Dia seperti ingin mengucapkan sesuatu
“Kak, maaf...Ocid...gak bisa...bawa kak...Oni...ke...dokter”. ucap Ocid patah-patah.
Air mata Oni mengucur di pipinya yang pucat. Pandangannya mulai berkunang-kunang.
“Kak..”. Kata Ocid lagi, lalu terdiam dan dia pun tersenyum. Lalu matanya pun terpejam.
Pandangan Oni pun sudah gelap. Tubuhnya limbung. Dia hanya mendengar sayup-sayup suara Oman minta tolong. Suara itu pun hilang ... Gelap.
Bekasi, 21 November 2008.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar