Kamis, 06 Oktober 2011

Steve Jobs: Saya Bukan Hamba Uang


Kepuasan kerja sejati tidak terletak pada uang yang dijanjikan tetapi pada pengembangan diri untuk terus memperbaiki kualitas sumber daya sebagai bekal yang tidak terseret inflasi seiring perkembangan waktu.
Petikan kutipan ini pernah disampaikan oleh Steve Jobs untuk menggambarkan keinginannya yang tak pernah padam memberikan inspirasi bagi orang lain soal rahasia kepuasan dan kesuksesan kerja sebelum ajal menjemputnya pada usia 56 tahun, Rabu (5/10/2011).
"Saya dihargai dengan bayaran hingga 1 juta dollar AS pada usia 23 dan lebih dari 10 juta dollar AS pada usia 24, bahkan lebih dari 100 juta dollar AS pada usia 25. Tetapi kenyataan ini tidak menjadi penting karena saya tidak menaruh fokus perhatian saya pada uang yang saya terima," urainya.
"Apa yang saya lakukan bukan memberikan kemudahan bagi orang lain tetapi membuat mereka menjadi lebih baik," pesan Steve yang menilai pengembangan kualitas diri sebagai prioritas kepuasan kerja tak hanya berdampak pada diri sendiri tetapi juga orang lain.
"Waktu kalian terbatas, jadi jangan habiskan hidup ini dengan semata bergantung pada pandangan orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma yang hanya berisi pemikiran orang lain. Jangan biarkan kebisingan akan pendapat orang lain menenggelamkan buah pikiran pribadi kalian. Dan yang terpenting peganglah teguh apa yang menjadi intuisi dan suara hatimu. Orang lain juga ingin melihat apa yang menjadi pandangan kalian sebenarnya," katanya.
"Inovasi membedakan seorang pemimpin dari pengikut. Ini yang selalu kami terapkan sebelum terjadi ledakan bisnis dot-com. Apa yang perusahaan kami lakukan adalah justru menemukan investasi saat resesi terjadi. Kami tidak akan memecat karyawan tetapi justru berusaha memaksimalkan mereka untuk menjadikan Apple sebagai fokus perhatian mereka. Sementara pemecatan hanya akan menjadi opsi terakhir," jelasnya.
"Ada yang mungkin mengatakan, Ya Tuhan, apa jadinya Apple apabila (Jobs) terlindas bus. Menurutku, kekhawatiran seperti ini tidak akan pernah terjadi karena sumber daya manusia yang benar-benar bermutu telah disediakan Apple," katanya.
"Tugas saya adalah menciptakan tim eksekutif handal untuk menggantikan posisiku. Yang saya lakukan bukan membodohi orang lain dan bukan meyakinkan mereka agar menerima sesuatu yang sebenarnya mereka tidak inginkan. Kami berhak memutuskan apa yang diinginkan untuk mencapai inovasi dengan harapan bahwa keputusan itu juga melatih kemampuan kami dalam membaca apa yang menjadi keinginan sebagian besar pasar. Untuk itulah kami dibayar yaitu untuk menciptakan produk yang benar-benar memuaskan pasar."


Tidak hanya visioner yang cerdas menciptakan produk-produk revolusioner, pendiri Apple Steve Jobs juga dikenal sebagai komunikator dan presenter ulung. Cara dia menyampaikan pidato dan materi presentasi selalu menggetarkan dan sering menjadi contoh bagi banyak orang.
"Setiap melihat presentasi dia seperti menonton film, dari awal sampai akhir nyambung dan story-nya dapat dan dari membuka hingga menutup dengan kata-kata yang tidak mungkin dilupakan," kata Sumartok, pendiri Presentonomics, saat dihubungi Kompas.com, Kamis (6/10/2011). Presentonomics adalah startup di Indonesia yang membantu orang meningkatkan kualitas presentasi di depan publik.
Sumartok mengatakan, Steve Jobs kelihatan mempersiapkan dengan baik apa yang akan disampaikannya dan menguasai betul materinya. Misalnya, setiap kali menjelaskan produk terbaru Apple. Steve Jobs tahu persis apa produk yang dijelaskan seolah-olah seperti orang yang melahirkannya. Dia tahu apa yang harus dikatakan keaudience sehingga sesuatu yang kompleks menjadi mudah dicerna.
"Passion dia terhadap produk benar-benar total, tidak hanya jenius tapi dia juga communicator sejati," kata Sumartok. Pasalnya, apapun yang dikatakan Steve Jobs di akhir presentasi, semua orang yang hadir seperti terbius dan ingin segera memiliki produk yang baru diceritakannya.
Tidak hanya itu, pidato Steve Jobs juga selalu penuh makna. Salah satu pidatonya yang menggetarkan banyak orang adalah saat Steve Jobs tampil di Stanford University, AS tahun 2005. Di dalam pidatonya itu, Steve Jobs menyampaikan bagaimana seharusnya filosofi hidup manusia. "Dia katakan hiduplah seolah-olah besok adalah hari kematian sehingga hari ini harus melakukan yang terbaik. Itu salah satu ajaran yang berkesan banget buat saya," kata Sumartok.
Selain itu, menurut Sumartok, Steve Jobs punya semangat mengubah dunia dengan menjadikan produk IT bukan barang yang garang namun ramah dengan semua orang. Filosofi tersebut dikatakan John Sculley, mantan CEO Pepsi yang direkrut Apple tahun 1983. Saat merekrut Sculley, Jobs mengatakan, "Untuk apa hanya menjual minuman bergula kalau bisa melakukan sesuatu untuk mengubah dunia."
"Jadi Jobs memberi pesan bahwa bekerja harus memikirkan apa value buat orang di sekitar, lingkungan, dan dunia," kata Sumartok. Ia yakin banyak orang yang terinspirasi Steve Jobs, sesorang denganpassion yang kuat dan perfectionist. Salah satu semboyan yang berkesan dari Steve Jobs adalah, "Stay hungry, stay foolish!" Jangan pernah berhenti belajar dan terus berkembang terus menambah ilmu seolah-olah selalu kekurangan. Steve Jobs mungkin telah tiada, namun warisan semangatnya tetap membara.

1 komentar: